Kamis, 09 Juni 2016

Ilmu Akhlak & Akhlak Terhadap Diri



MAKALAH
ILMU AKHLAK
AKHLAK TERHADAP DIRI

Dosen Pembimbing
Dr. H. Ibdalsyah, M.A

Disusun oleh:
Deden Al-Hikmatullah
Alfiatussa’adah
Anjar Saraswati
Bakri Purwadi






 

Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam
Universitas Ibn Kholdun Bogor
KATA PENGANTAR


Puji serta Syukur kami hanturkan kepada Sang Khalik, Al Mulk “ Maha Merajai “ atas limpahan Karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan Materi ILMU AKHLAK mengenai “ Akhlak terhadap Diri “. Shalawat beriringkan salam senantiasa tercurahkan kepada Baginda Alam, Kekasih-Nya, Habibana wa syafi’ana wa qurratin a’yunina wa maulana Muhammad saw sebagai pencerah kehidupan umat-umat-Nya.

Pembahasan ini disusun secara metodologis sesuai dengan aturan-aturan yang ada, disusun dengan ringkas, singkat, faktual, mudah dipahami dan jauh dari kesan menggurui.
Berhujung pada pembahasan ini kami menyadari segala kekurangan dan kekhilafan, manusia tak luput dari salah dan dosa. Sungguh, kebenaran hanya milik Allah SWT. Saran serta kritik kami harapkan sebagai peningkatan mutu pada materi selanjutnya.

Semoga bermanfaat. Amiin....           
Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih.

                                                                                            

                                                                                            
                                                                                                         Bogor, 2 April 2015
                                                                                                                                
                                                                                                         Kelompok 2




Bab 1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Dewasa ini moral bangsa ini semakin hancur dan hilang hal ini terbukti dengan adanya prilaku moral yang dilakukan oleh masyarakat indonesia terutama kaum muda sikap moral sekarang semkin merajalela di kehidupan masyarakat bahkan sudah di anggap biasa dan wajar dalam kehidupan masyarakat, hal ini tidak terlepas dari kesalahan orang tua dalam mendidik anaknya yang membiarkan begitu saja tanpa dibekalinya pengetahuan-pengetahuan agama yang di jadikan pedoman hidup dalam mengarungi kehidupannya di dunia.
Salah satu kunci utama dalam membenahi akhlak bangsa ini yaitu dengan menitik beratkan pada lingkungan keluarga dan perlu penyadaran terhadap setiap keluarga bahwasanya pendidikan akhlak terutama dan penting untuk mengajarkan untuk di ajarkan dan di tanamkan dalam pada seorang anak. Dalam proses penanaman nilai akhlak ini haruslah pertama kali di tanamkan nilai nilai akhlak terhadap diri karena semua hal itu dinilai dari diri. Setelah diri benar-benar tertanam nilai akhlak maka secara otomatis dapat menjalar dalam aspek-aspek kehidupan yang lain.
Pada makalah ini dibahas mengenai akhlak terhadap diri yang terdapat ulasan mengenai bagaimana kita harus berakhlaku-l-karimah dalam menjalani kehidupan didunia ini semoga dengan adanya makalah ini dapat mempermuadah kita dalam berahlak kepada diri dan dapat menjadaikan orang yang benara benar berakhlak dan seorang muslim yang benar benar bertakwa kepada Allah SWT.

1.2. Rumusan Permasalahan
1.      Apa yang dimaksud dengan akhlak ?
2.      Bagaimana akhlak terhadap diri sendiri ?
3.      Seberapa tinggi kedudukan akhlak pada pandangan islam ?
1.3. Tujuan pembahasan
1.      Mengetahui arti terminologi dan etimologi akhlak.
2.      Memahami perilaku atau akhlak terhadap diri sendiri.
3.      Mengetahui seberapa pentingnya akhlak menurut islam.





Bab 2 Pembahasan

2.1 Pengertian Akhlak

            Kata akhlak berasal dari bahasa arab yang sudah di indonesiakan dan juga diartikan dengan istilah perangai atau kesopanan. Kata أَخْلَاقٌ adalah jama’ taksir dari kata خُلُقٌ. Sebagaiman halnya kata أَعْنَاقٌ adalah jama taksir dari kata عُنُقٌ yang artinya batang leher juga terlihat kata أَصْلَابٌ, adalah jama taksir dari kata صُلُبٌ yang artinya tulang punggung atau tulang belakang.
Asal kata akhlak adalah meervoud dari kata khilqun, yang mengandung segi-segi persesuaian dengan kata kholiq dan makhluk. Ilmu akhlak merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara makhluk dengan kholi, serta antara makhluk dengan makhluk yang lain.
Para ulama ilmu akhlak merumuskan definisinya dengan berbeda beda tinjauan yang dikemukakannya. Al-qurtubi menekankan, bahwa akhlak itu merupakan bagian dari kejadian manusia. Oleh karena itu, kata alkhuluq tidak dapat dipisahkan pengertian dengan kata alkhilqoh yaitu fitroh yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia.
Muhammad bin illan al-sadiqi, ibnu maskawaih dan abu bakar jabir al-jaziri menekankan, bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu menimbulkan perbuatan yang gampang dilakukan.
Imam al-ghazali menekankan, bahwa ahlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik atau buruk dengan mengguanakan ukuran ilmu pengethuan dan nama agama.
Dari definisi-definisi diatas kita tarik kesimpulan bahwa akhlak adalah perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya. Maka gerakan repleks, denyut jantung dan kedipan mata tidak dapat di sebut akhlak, karena gerakan tersebut tidak di perintah oleh unsur kejiwaan.
Dorongan jiwa yang melahirkan perbuatan manusia, pada dasarnya bersumber dari kekuatan batin yang dimiliki oleh setiap manusia yaitu :
1.      Tabiat (pembawaan), yaitu suatu dorongan jiwa yang tidak dipengaruh oleh lingkungan manusia, tetapi disebkan oleh naluri dan faktor warisan sifat-sifat dari orang tuanya atau nenek moyangnya.
2.      Akal pikiran, yaitu dorongan jiwa yang di pengaruhi oleh lingkungan manusia setelah melihat sesuatu, mendengarkannya, merasakan serta merabanya.
3.      Hati nurani, yaitu dorogan jiwa yang hanya mempengaruhi oleh faktor intuitif (wijdan). Alat kejiwaan yang dapat menilai hal-hal yang sifatnya abstrak (yang batin).
Ketiga kekuatan kejiwaan dalam diri manusia inilah yan menggambarkan hakikat manusia itu sendiri. Maka konsepsi pendidikan dalam islam, selalu memperhatikan ketiga kekuatan tersebut, agar dapat berkembang dengan baik dan seimbang, sehingga terwujud manusia yang ideal menurut konsepsi islam.
2.2  Akhlak terhadap diri
a.     Belas kasihan atau sayang yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain. Dalam al-quran di terangkan sebagai berikut :
ال عمران : 159)) ...........فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya : Maka di sebabkan rahmat dari Allah, sehingga kamu bersikap lemah lembut (merasa kasihan terhadap mereka). Sekiranya kamu berlaku kasar lagi keras hati tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS. Ali Imron: 159)
b.      Rasa persaudaraan yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berhubungan baik dan bersatu dengan orang lain, karena ada faktor ikatan batin dengannya, dalam al-qur’an di jelaskan sebagai berikut :
ال عمران : 103)) ........وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا......
Artinya : ..... dan ingatlah akan nikmat Allah ketika engkau dahulu bermusuh-musuhan lalu Allah menjinakan hatimu. Karena nikmat Allah, maka menjadilah engkau bersaudara.... (QS. Ali Imron 103).
c.       Memberi nasehat yaitu suatu upaya untuk memberi petunuk-petunjuk yang baik kepada orang lain dengan mennggunakan perkataan, baik etika orang yang dinasehati telah melakukan hal-hal yang buruk maupun belum, Sebab kalau dinasehati ketika ia telah melakukan perbuatan buruk, berarti diharapkan agar ia berhenti melakukannya. Tetapi kalau dinasehati ketiaka ia belum melakukan perbuatan itu, berarti diharapkan agar ia tidak akan melakukannya. Dalam hadits di sebutkan :
عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : بَايَعْتَ رُسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامَ الصَّلَاةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ النُّصْحَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ( رواه البخارى و مسلم ).
Artinya ‘dari jabir r.a berkata : aku telah mengadakan baiat (janji setia) dengan rosulallah SAW. Untuk selalu melaksanakan solat, mengeluarkan zakat, dan memberi nasehat kepada setiap muslim. (HR. bukhari Muslim).
d.      Memberi pertolongan yaitu suatu upaya untuk membantu orang lain, agar tidak mengalami suatu kesulitan. Alam hadits disebutkan:
لِيَنْصُرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا. إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ نُصْرَةٌ. وَإِنْ كَانَ مَظْلُوْمًا فَلْيَنْصُرْهُ. (رواه البخارى و مسلم عن جابر).
Artinya : Hendaklah seeorang itu memberi pertolongan kepada saudaranya baik yang menganiaya maupun yang dianiaya. Apabla ia menganiaya maka hendaklah dilarangnya, maka itulah pertolongannya. Dan kalau ia teraniaya, maka hendalah ia di tolong. (HR. bukhori Muslim) yang bersumber dari jabir
e.       Menaan amarah yaitu upaya menahan emosi, agar tidak di kuasai oleh perasaan marah terhadap orang lain. Didalam al-qur’an disebutkan :
ال عمران : 134)) وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ......
Artinya : ......... dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan orang lain) Allah menyukai orang – orang yang berbuat  kebajikan. )QS Ali Imron :134(.
f.       Sopan santun yaitu sikap jiwa yang lemah lembut terhadap orang lain, sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung adab kesopanan yang mulia. Adab kesopanan itu merupakan sifat tuhan yang harus di praktekan oleh manusia dalam hubungan sosialnya kemudian sifat sopan santun itu, selalu di praktekan oleh nabi Ibrahim AS dan kehidupan sosialnya, al-qur’an mengemukakannya :
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ ( التوبة : 114 )
Artinya : dan permintaan ampun melalui ibrahim (kepada Allah) unuk bapaknya, tidak lain hanyalah karna satu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Tatkala jelas bagi Ibrahim AS, bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim terlepas dari padanya. Sesungguhnya ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun (QS. At Taubah 114).
g.      Suka memaafkan yaitu sikap dan perilku seseorang yang suka memaafkan kesalahan orang lain yang pernah di perbuat terhadapnya. Dalam hadits disebutkan :
ثَلَاثَةٌ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ عَنْدَ اللهِ أَنْ تَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَ تُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ. ( رواه الخطيب عن أنس ).
Artinya : Tiga perkara yang termasuk akhlak baik, yang disenangi Allah (yaitu): agar engkau memaafkan orang yang telah menganiaya engkau, memberi kebaikan kepada orang yang pernah menghalang-halangimu, menghubung orang yang pernah memutuskan tali persabatan denganmu (HR. al-khatib, yang bersumber dari annas).

2.3 kedudukan akhlak dalam islam
Untuk mengetahui kedudukan akhlak dalam islam, maka perlu diuraikan bahwa ada 3 macam sendi islam, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya sehingga kualitas seorang muslim selalu dapat diukur dengan pelaksanaannya terhadap ketiga macam sendi tersebut yang mencakup :
1.      Masalah aqidah, yang meliputi ke 6 macam rukun iman dengan kewajiban beriman kepada Allah , malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari akhir-Nya, dan qodar baik atau qodar buruk yang telah di tentukannya.
2.      Masalah syari’ah yang meliputi pengabdian hamba terhadapa tuhannya yang dapat dilihat pada rukun islam yang lima, dengan kewajiban mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan solat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan romadhon, serta menunaikan haji dibaitulloh. Dan muamalah juga termasuk masalah syari’ah, yang meliputi perkawinan, perwarisa, hubungan perekonomian, masalah ketatanegaraan, perlindungan hak-hak, kewajiban manusia dsb.
3.      Masalah ihsan yang meliputi hubungan baik terhadap Allah swt. Terhadapa sesama manusia serta terhadap seluruh makhluk di dunia ini.
Dapat kita ketahui kedudukan akhlak dalam islam yang merupakan sendi yang ketiga dengan fungsi yang selalu mewarnai sikap dan perilaku manusia dalam memanipestasikan keimanannya, ibadahnya serta muamalahnya terhadap manusia.
Masyarakat islam tidak boleh rusak tatanannya sebagaimana umat-umat terdahulu maka rosulallah SAW di utus untuk menyempurnakan akhlak mulia, sebagai suatu ajaran dalam islam yang bermaksud untuk memperbaiki kepribadian manusia. Perlu ditegaskan, bahwa akhlak mulia selalu melengkapi sendi keimanan untuk menuju kepada kesempurnaan kepribadian manusia. Sebagaimana hadits :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَكْمَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَيْمَانَا أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً (رواه الترمذي عن أبي هريرة).  
Rosulullah bersabda : paling sempurna keimana orang-orang muslim (kalau akhlaknya kebih baik) . (HR. At tirmidzi yang besumber dari abi hurairah)
Kemudian terhadap pengalamaan syariah, akhlak baik juga sangat berperan untuk melengkapinya sebagaimana yang telah diterangkan. Bahkan lebih jauh lagi, rosulallah saw mengatkan bahwa agama itu berintikan akhlak mulia.
Umat islam yang dipersiapkan untuk benar-benar menjadi “ummatan wa sattan”, harus di lengkapi dengan tuntunan yang dapat dijadikan alat komunikasi dengan sesama manusia. Tuntunan itu berupa akhlak mulia, yang diharapkan untuk mewarnai segala aspek kehidupan manusia. Karena itu, sesungguhnya ilmu komunikasi yang paling hebat adalah ilmu yang di dasarkan atas “ akhlaqu-l-karimah” yang menjadikan pegangan bagi umat islam dengan anjuran melakukan sifat-sifat yang yang terpuji.

Bab 3 Penutup
3.1 Kesimpulan
            Akhlak merupakan perilaku muslim yang bersumber dari ajaran ihsan, yaitu perilaku baik manusia terhadap dirinya sendiri. Perilaku tersebut diharapkan dimiliki oleh setiap manusia. Akhlak baik terhadap secara manusia meliputi belas kasih atau sayang (selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain), rasa persaudaraan (persatuan orang lain), memberi nasehat, memberi pertolongan, menahan amarah, sopan santun dan suka memaafkan.
            Kedudukan akhlak dalam agama islam yaitu berlandaskan pada perintah ayat 199 dari surat al-‘araf, yang menekankan tiga macam perintah yaitu: jadilah engkau pemaaf dengan selalu menghubungkan silaturahmi dan kedamaian, suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf dengan cara bertaqwa kepada Allah SWT dan menjaga perkataan dari kebohongan, kemudian berpaling dari orang-orang jahil dengan cara tidak menyamai sikap dan perilakunya serta tidak memberikan peluang bagi mereka untuk mempengaruhi orang-orang baik menjadi jahil.

3.2 Daftar pustaka

A. Al-Qur’an al-karim
B. Drs. Mahjuddin M.Pd.I, AKHLAK TASAWUF I mukjizat Nabi karomah wali dan ma’rifah sufi, Kalam Mulia, Jakarta, 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar