MAKALAH
ILMU
AKHLAK
AKHLAK
TERHADAP DIRI
Dosen Pembimbing
Dr. H. Ibdalsyah, M.A
Disusun oleh:
Deden Al-Hikmatullah
Alfiatussa’adah
Anjar Saraswati
Bakri Purwadi
Pendidikan
Agama Islam
Fakultas Agama
Islam
Universitas Ibn
Kholdun Bogor
KATA PENGANTAR
Puji serta Syukur kami hanturkan kepada Sang
Khalik, Al Mulk “ Maha Merajai “ atas limpahan Karunia-Nyalah kami dapat
menyelesaikan Materi ILMU AKHLAK mengenai “ Akhlak terhadap Diri “. Shalawat
beriringkan salam senantiasa tercurahkan kepada Baginda Alam, Kekasih-Nya, Habibana
wa syafi’ana wa qurratin a’yunina wa maulana Muhammad saw sebagai pencerah
kehidupan umat-umat-Nya.
Pembahasan ini disusun secara metodologis
sesuai dengan aturan-aturan yang ada, disusun dengan ringkas, singkat, faktual,
mudah dipahami dan jauh dari kesan menggurui.
Berhujung pada pembahasan ini kami menyadari segala
kekurangan dan kekhilafan, manusia tak luput dari salah dan dosa. Sungguh,
kebenaran hanya milik Allah SWT. Saran serta kritik kami harapkan sebagai peningkatan
mutu pada materi selanjutnya.
Semoga bermanfaat. Amiin....
Atas perhatiannya, kami mengucapkan terima kasih.
Bogor, 2 April 2015
Kelompok
2
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
Dewasa ini moral bangsa ini semakin hancur dan hilang hal
ini terbukti dengan adanya prilaku moral yang dilakukan oleh masyarakat
indonesia terutama kaum muda sikap moral sekarang semkin merajalela di
kehidupan masyarakat bahkan sudah di anggap biasa dan wajar dalam kehidupan
masyarakat, hal ini tidak terlepas dari kesalahan orang tua dalam mendidik
anaknya yang membiarkan begitu saja tanpa dibekalinya pengetahuan-pengetahuan
agama yang di jadikan pedoman hidup dalam mengarungi kehidupannya di dunia.
Salah satu kunci utama dalam membenahi akhlak bangsa ini
yaitu dengan menitik beratkan pada lingkungan keluarga dan perlu penyadaran
terhadap setiap keluarga bahwasanya pendidikan akhlak terutama dan penting
untuk mengajarkan untuk di ajarkan dan di tanamkan dalam pada seorang anak. Dalam proses penanaman nilai akhlak ini haruslah pertama kali di
tanamkan nilai nilai akhlak terhadap diri karena semua hal itu dinilai dari
diri. Setelah diri benar-benar tertanam
nilai akhlak maka secara otomatis dapat menjalar dalam
aspek-aspek
kehidupan yang lain.
Pada makalah ini dibahas mengenai akhlak terhadap diri
yang terdapat ulasan mengenai bagaimana kita harus berakhlaku-l-karimah dalam
menjalani kehidupan didunia ini semoga dengan adanya makalah ini dapat
mempermuadah kita dalam berahlak kepada diri dan dapat menjadaikan orang yang
benara benar berakhlak dan seorang muslim yang benar benar bertakwa kepada Allah
SWT.
1.2. Rumusan
Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan akhlak ?
2. Bagaimana akhlak terhadap diri sendiri ?
3. Seberapa tinggi kedudukan akhlak pada
pandangan islam ?
1.3. Tujuan
pembahasan
1. Mengetahui arti terminologi dan etimologi
akhlak.
2. Memahami perilaku atau akhlak terhadap diri
sendiri.
3. Mengetahui seberapa pentingnya akhlak menurut
islam.
Bab 2 Pembahasan
2.1 Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa arab
yang sudah di indonesiakan dan juga diartikan dengan istilah perangai atau
kesopanan. Kata أَخْلَاقٌ adalah jama’
taksir dari kata خُلُقٌ. Sebagaiman halnya kata أَعْنَاقٌ adalah jama’
taksir dari kata عُنُقٌ yang artinya batang leher juga terlihat
kata أَصْلَابٌ, adalah jama’
taksir dari kata صُلُبٌ yang artinya tulang punggung
atau tulang belakang.
Asal kata akhlak adalah meervoud dari kata khilqun, yang
mengandung segi-segi persesuaian dengan kata kholiq dan makhluk. Ilmu akhlak
merupakan koleksi ugeran yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara
makhluk dengan kholi, serta antara makhluk dengan makhluk yang lain.
Para
ulama ilmu akhlak merumuskan definisinya dengan berbeda beda tinjauan yang dikemukakannya.
Al-qurtubi menekankan, bahwa akhlak itu merupakan bagian dari kejadian manusia.
Oleh karena itu, kata alkhuluq tidak dapat dipisahkan pengertian dengan kata
alkhilqoh yaitu fitroh yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia.
Muhammad bin illan al-sadiqi, ibnu maskawaih dan abu
bakar jabir al-jaziri menekankan, bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu menimbulkan
perbuatan yang gampang dilakukan.
Imam al-ghazali menekankan, bahwa ahlak adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik atau buruk dengan
mengguanakan ukuran ilmu pengethuan dan nama agama.
Dari
definisi-definisi
diatas kita tarik kesimpulan
bahwa akhlak adalah perbuatan manusia yang bersumber dari
dorongan jiwanya. Maka gerakan repleks,
denyut jantung dan kedipan mata tidak dapat di sebut akhlak, karena gerakan
tersebut tidak di perintah oleh unsur kejiwaan.
Dorongan
jiwa yang melahirkan perbuatan manusia, pada dasarnya bersumber dari kekuatan
batin yang dimiliki oleh setiap manusia yaitu :
1.
Tabiat (pembawaan), yaitu suatu dorongan jiwa yang tidak dipengaruh
oleh lingkungan manusia, tetapi disebkan oleh naluri dan faktor warisan sifat-sifat
dari orang tuanya atau
nenek moyangnya.
2.
Akal pikiran, yaitu dorongan jiwa yang di pengaruhi oleh lingkungan
manusia setelah melihat sesuatu, mendengarkannya, merasakan serta merabanya.
3.
Hati nurani, yaitu dorogan jiwa yang hanya mempengaruhi oleh faktor
intuitif (wijdan). Alat kejiwaan yang dapat menilai hal-hal yang sifatnya
abstrak (yang batin).
Ketiga kekuatan
kejiwaan dalam diri manusia inilah yan menggambarkan hakikat manusia itu
sendiri. Maka konsepsi pendidikan dalam islam, selalu memperhatikan ketiga
kekuatan tersebut, agar dapat berkembang dengan baik dan seimbang, sehingga
terwujud manusia yang ideal menurut konsepsi islam.
2.2 Akhlak
terhadap diri
a.
Belas kasihan atau
sayang yaitu sikap jiwa yang selalu ingin
berbuat baik dan menyantuni
orang lain. Dalam al-qur’an di terangkan
sebagai berikut :
ال عمران : 159)) ...........فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا
غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Artinya : Maka di sebabkan rahmat dari Allah, sehingga kamu bersikap lemah
lembut (merasa
kasihan terhadap mereka). Sekiranya
kamu berlaku kasar lagi keras hati tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu (QS. Ali Imron: 159)
b.
Rasa persaudaraan yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berhubungan
baik dan bersatu dengan orang lain, karena ada faktor ikatan batin dengannya,
dalam al-qur’an di jelaskan sebagai berikut :
ال عمران : 103)) ........وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً
فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا......
Artinya : ..... dan ingatlah akan nikmat Allah ketika engkau dahulu
bermusuh-musuhan lalu Allah menjinakan hatimu. Karena nikmat Allah, maka
menjadilah engkau bersaudara.... (QS. Ali Imron 103).
c.
Memberi nasehat yaitu suatu upaya untuk memberi petunuk-petunjuk
yang baik kepada orang lain dengan mennggunakan perkataan, baik etika orang
yang dinasehati telah melakukan hal-hal yang buruk maupun belum, Sebab
kalau dinasehati ketika ia telah melakukan perbuatan buruk, berarti diharapkan
agar ia berhenti melakukannya. Tetapi kalau dinasehati ketiaka ia belum melakukan
perbuatan itu, berarti diharapkan agar ia tidak akan melakukannya. Dalam hadits
di sebutkan :
عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
قَالَ : بَايَعْتَ رُسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامَ
الصَّلَاةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ النُّصْحَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ( رواه
البخارى و مسلم ).
Artinya ‘dari jabir r.a berkata : aku telah mengadakan baiat (janji
setia) dengan rosulallah SAW. Untuk selalu
melaksanakan solat, mengeluarkan zakat, dan memberi nasehat kepada setiap
muslim. (HR. bukhari Muslim).
d.
Memberi pertolongan
yaitu suatu upaya untuk membantu orang lain, agar tidak mengalami suatu kesulitan.
Alam hadits disebutkan:
لِيَنْصُرَ الرَّجُلُ
أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا. إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ
نُصْرَةٌ. وَإِنْ كَانَ مَظْلُوْمًا فَلْيَنْصُرْهُ. (رواه البخارى و مسلم عن
جابر).
Artinya : Hendaklah seeorang itu memberi pertolongan kepada
saudaranya baik yang menganiaya maupun yang dianiaya. Apabla ia menganiaya maka
hendaklah dilarangnya, maka itulah pertolongannya. Dan kalau ia teraniaya, maka
hendalah ia di tolong. (HR. bukhori
Muslim) yang bersumber dari jabir
e.
Menaan amarah yaitu upaya menahan emosi, agar tidak di kuasai oleh
perasaan marah terhadap orang lain. Didalam al-qur’an disebutkan :
ال عمران : 134)) وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ
يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ......
Artinya : ......... dan orang-orang
yang menahan amarahnya serta memaafkan
(kesalahan orang lain) Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan. )QS Ali Imron
:134(.
f.
Sopan santun yaitu sikap jiwa yang lemah lembut terhadap orang
lain, sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung adab
kesopanan yang mulia. Adab kesopanan itu merupakan sifat tuhan yang harus di praktekan
oleh manusia dalam hubungan sosialnya kemudian sifat sopan santun itu, selalu
di praktekan oleh nabi Ibrahim AS dan
kehidupan sosialnya, al-qur’an mengemukakannya :
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ
مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ
تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ ( التوبة : 114 )
Artinya : dan permintaan
ampun melalui ibrahim (kepada Allah)
unuk bapaknya, tidak lain hanyalah karna satu janji yang telah diikrarkannya
kepada bapaknya itu. Tatkala jelas bagi Ibrahim AS,
bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim
terlepas dari padanya. Sesungguhnya ibrahim
adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun (QS. At Taubah
114).
g.
Suka memaafkan yaitu sikap dan perilku seseorang yang suka
memaafkan kesalahan orang lain yang pernah di perbuat terhadapnya. Dalam hadits
disebutkan :
ثَلَاثَةٌ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
عَنْدَ اللهِ أَنْ تَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَ تُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَ تَصِلَ
مَنْ قَطَعَكَ. ( رواه الخطيب عن أنس ).
Artinya : Tiga
perkara yang termasuk akhlak baik, yang disenangi Allah (yaitu): agar engkau memaafkan orang yang telah menganiaya engkau, memberi
kebaikan kepada orang yang pernah menghalang-halangimu,
menghubung orang yang pernah memutuskan tali persabatan denganmu (HR.
al-khatib, yang bersumber dari annas).
2.3 kedudukan
akhlak dalam islam
Untuk mengetahui kedudukan akhlak dalam islam, maka perlu
diuraikan bahwa ada 3 macam sendi islam, yang tidak dapat dipisahkan antara
satu dengan yang lainnya sehingga kualitas seorang muslim selalu dapat diukur
dengan pelaksanaannya terhadap ketiga macam sendi tersebut yang mencakup :
1. Masalah aqidah, yang meliputi ke 6 macam rukun
iman dengan kewajiban beriman kepada Allah , malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rosul-rosul-Nya, hari akhir-Nya, dan qodar baik atau qodar
buruk yang telah di tentukannya.
2. Masalah syari’ah yang meliputi pengabdian
hamba terhadapa tuhannya yang dapat dilihat pada rukun islam yang lima, dengan kewajiban
mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan solat, mengeluarkan zakat,
berpuasa di bulan romadhon, serta menunaikan haji dibaitulloh. Dan muamalah juga termasuk masalah syari’ah, yang meliputi
perkawinan, perwarisa, hubungan perekonomian, masalah ketatanegaraan,
perlindungan hak-hak,
kewajiban manusia dsb.
3. Masalah ihsan
yang meliputi hubungan baik terhadap Allah swt. Terhadapa sesama manusia serta
terhadap seluruh makhluk di dunia ini.
Dapat kita ketahui kedudukan akhlak dalam islam yang
merupakan sendi yang ketiga dengan fungsi yang selalu mewarnai sikap dan
perilaku manusia dalam memanipestasikan keimanannya, ibadahnya serta
muamalahnya terhadap manusia.
Masyarakat islam tidak boleh rusak tatanannya sebagaimana
umat-umat terdahulu maka rosulallah SAW di utus untuk menyempurnakan akhlak
mulia, sebagai suatu ajaran dalam islam yang bermaksud untuk memperbaiki
kepribadian manusia. Perlu
ditegaskan, bahwa akhlak mulia selalu melengkapi sendi keimanan untuk menuju
kepada kesempurnaan kepribadian manusia. Sebagaimana hadits :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : اَكْمَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَيْمَانَا أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً (رواه
الترمذي عن أبي هريرة).
Rosulullah bersabda : paling sempurna keimana orang-orang
muslim (kalau akhlaknya kebih baik) . (HR. At tirmidzi yang besumber dari abi hurairah)
Kemudian terhadap pengalamaan syariah, akhlak baik juga
sangat berperan untuk melengkapinya sebagaimana yang telah diterangkan. Bahkan lebih jauh lagi, rosulallah saw mengatkan bahwa agama itu
berintikan akhlak mulia.
Umat
islam yang dipersiapkan untuk benar-benar
menjadi “ummatan wa sattan”, harus di lengkapi dengan tuntunan yang dapat dijadikan
alat komunikasi dengan sesama manusia. Tuntunan itu berupa akhlak mulia, yang
diharapkan untuk mewarnai segala aspek kehidupan manusia. Karena itu, sesungguhnya
ilmu komunikasi yang paling hebat adalah ilmu yang di dasarkan atas “ akhlaqu-l-karimah”
yang menjadikan pegangan bagi umat islam dengan anjuran melakukan sifat-sifat
yang yang terpuji.
Bab 3 Penutup
3.1 Kesimpulan
Akhlak merupakan perilaku muslim yang
bersumber dari ajaran ihsan, yaitu perilaku baik manusia terhadap dirinya
sendiri. Perilaku tersebut diharapkan dimiliki oleh setiap manusia. Akhlak baik
terhadap secara manusia meliputi belas kasih atau sayang (selalu ingin berbuat
baik dan menyantuni orang lain), rasa persaudaraan (persatuan orang lain),
memberi nasehat, memberi pertolongan, menahan amarah, sopan santun dan suka
memaafkan.
Kedudukan akhlak dalam agama islam
yaitu berlandaskan pada perintah ayat 199 dari surat al-‘araf, yang menekankan
tiga macam perintah yaitu: jadilah engkau pemaaf dengan selalu menghubungkan
silaturahmi dan kedamaian, suruhlah orang-orang mengerjakan yang ma’ruf dengan
cara bertaqwa kepada Allah SWT dan menjaga perkataan dari kebohongan, kemudian
berpaling dari orang-orang jahil dengan cara tidak menyamai sikap dan
perilakunya serta tidak memberikan peluang bagi mereka untuk mempengaruhi
orang-orang baik menjadi jahil.
3.2 Daftar
pustaka
A. Al-Qur’an
al-karim
B. Drs.
Mahjuddin M.Pd.I, AKHLAK TASAWUF I mukjizat Nabi karomah wali dan
ma’rifah sufi, Kalam Mulia, Jakarta, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar